Showing posts with label Manajemen Keperawatan. Show all posts
Showing posts with label Manajemen Keperawatan. Show all posts

Saturday, September 15, 2018

KONSEP MANAJEMEN KEPERAWATAN DAN KONSEP MANAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN

konsep-manajemen-keperawatan-dan-konsep-manajemen-asuhan-keperawatan


A. KONSEP MANAJEMEN KEPERAWATAN
1. Pengertian Manajemen
Manajemen adalah suatu proses melakukan kegiatan atau usaha untuk mencapai tujuan organisasi melalui kerja sama dengan orang lain (Hersey and Blancchard, dalam buku Suchri Suarli dan Yanyan Bahtiar, 2007).
Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan proaktif dalam menjalankan suatu kegiatatan diorganisasi. Didalam manajemen tersebut mencakup kegiatan POAC (Planing, organizing, actuating, controlling) terhadap staf, sarana dan prasarana dalam mencapai tujuan organisasi (Grant dan Massey, 1999 dalam Nursalam, 2012).
Manajemen keperawatan adalah perencanaan. Perencanaan adalah yang utama untuk seluruh aktivitas yang lain atau fungsi-fungsi dari manajemen. Perencanaan adalah suatu pemikiran atau konsep nyata yang sering dilaksanakan dalam penulisan, meskipun banyak orang dalam perawatan menggunakan perencanaan secara informal, tanggung jawab dari perencanaan tidak dituliskan, kemungkinan tidak dilaksanakan (Swansburg, 2000).
Manajemen keperawatan diartikan secara singkat sebagi proses pelaksanaan pelayanan keperawatan melalui staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan, pengobatan, dan rasa aman kepada pasien / keluarga / masyarakat (Suyanto, 2008).
Manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan secara profesional. Manajer keperawatan dituntut untuk merencanakan, mengorganisir, memimpin, dan mengevaluasi sarana dan prasarana yang tersedia untuk dapat memberikan asuhan keperawatan yang efektif dan seefisien mungkin bagi individu, keluarga dan masyarakat (Gillies, 1986 dalam Nursalam, 2012).

2. Prinsip Manajemen Keperawatan
Menurut Nursalam 2012, Ada beberapa hal yang terkait dengan prinsip-prinsip yang mendasari manajemen keperawatan yaitu antara lain :
a. Manajemen keperawatan seyogyanya berlandaskan perencanaan karena melalui fungsi perencanaan, pimpinan dapat menurunkan resiko pengambilan keputusan, pemecahan masalah yang efektif dan terencana.
b. Manajemen keperawatan dilaksanakan melalui penggunaan waktu yang efektif. Manajer keperawatan yang menghargai waktu akan menyusun perencanaan yang terprogram dengan baik dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sebelumnya.
c. Manajemen keperawatan akan melibatkan pengambilan keputusan. Berbagai situasi maupun permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan kegiatan keperawatan memerlukan pengambilan keputusan di berbergai tingkat manajerial.
d. Memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan pasien merupakan fokus perhatian manajer perawat dengan mempertimbangkan apa yang pasien lihat, fikir, yakini dan ingini. Kepuasan pasien merupakan poin utama dari seluruh tujuan keperawatan.
e. Manajemen keperawatan harus terorganisir. Pengorganisasian dilakukan sesuai dengan kebutuhan organisasi untuk mencapai tujuan.
f. Pengarahan merupakan elemen kegiatan manajemen keperawatan yang meliputi proses pendelegasian, supervisi, koordinasi dan pengendalian pelaksanaan rencana yang telah diorganisasikan.
g. Divisi keperawatan yang baik memotivasi karyawan untuk memperlihatkan penampilan kerja yang baik.
h. Manajemen keperawatan menggunakan komunikasi yang efektif. Komunikasi yang efektif akan mengurangi kesalahpahaman dan memberikan persamaan pandangan, arah dan pengertian diantara pegawai.
i. Pengembangan staf penting untuk dilaksanakan sebagai upaya persiapan perawat-perawat pelaksana menduduki posisi yang lebih tinggi atau upaya manajer untuk meningkatkan pengetahuan karyawan.
j. Pengendalian merupakan elemen manajemen keperawatan yang meliputi penilaian tentang pelaksanaan rencana yang telah dibuat, pemberian instruksi dan menetapkan prinsip – prinsip melalui penetapan standar, membandingkan penampilan dengan standar dan memperbaiki kekurangan.
Berdasarkan prinsip-prinsip diatas maka para manajer dan administrator seyogyanya bekerja bersama-sama dalam perencanaan dan pengorganisasian serta fungsi-fungsi manajemen lainnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

3. Ruang Lingkup Manajemen Keperawatan
Mempertahankan kesehatan telah menjadi sebuah industri besar yang melibatkan berbagai aspek upaya kesehatan. Pelayanan kesehatan kemudian menjadi hak yang paling mendasar bagi semua orang dan memberikan pelayanan kesehatan yang memadai akan membutuhkan upaya perbaikan menyeluruh sistem yang ada. Pelayanan kesehatan yang memadai ditentukan sebagian besar oleh gambaran pelayanan keperawatan yang terdapat didalamnya.
Keperawatan merupakan disiplin praktis klinis. Manajer keperawatan yang efektif seyogyanya memahami dan memfasilitasi pekerjaan perawat pelaksana. Manajer keperawatan mengelola kegiatan keperawatan meliputi :
a. Menetapkan penggunaan proses keperawatan.
b. Mengetahui intervensi keperawatan yang dilakukan berdasarkan diagnosa.
c. Menerima akuntabilitas kegiatan keperawatan yang dilaksanakan oleh perawat.
d. Menerima akuntabilitas hasil kegiatan keperawatan.
e. Mengendalikan lingkungan praktek keperawatan.
Seluruh pelaksanaan kegiatan ini senantiasa di inisiasi oleh para manajer keperawatan melalui partisipasi dalam proses manajemen keperawatan dengan melibatkan para perawat pelaksana. Berdasarkan gambaran diatas maka lingkup dari tugas dan peran seorang menejerial keperawatan terdiri dari:
a. Manajemen Operasional
Pelayanan keperawatan di rumah sakit dikelola oleh bidang keperawatan yang terdiri dari tiga tingkatan manajerial, yaitu :
1) Manajemen Puncak.
2) Manajemen Menengah.
3) Manajemen Bawah.
Tidak setiap orang memiliki kedudukan dalam manajemen berhasil dalam kegiatannya. Ada beberapa faktor yang perlu dimiliki oleh orang-orang tersebut agar penatalaksanaannya berhasil. Faktor-faktor tersebut adalah :
1) Kemampuan menerapkan pengetahuan.
2) Ketrampilan kepemimpinan.
3) Kemampuan menjalankan peran sebagai pemimpin.
4) Kemampuan melaksanakan fungsi manajemen.

b. Manajemen Asuhan Keperawatan
Manajemen Rencana Asuhan Keperawatan merupakan suatu proses keperawatan yang menggunakan konsep-konsep manajemen didalamnya seperti perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian atau evaluasi (Nursalam, 2012).

4. Tujuan Manajemen Keperawatan
Manajemen keperawatan yang  umumnya ditetapkan oleh bidang keperawatan meliputi:
a. Meningkatkan dan mempertahankan kualitas pelayanan rumah sakit.
b. Meningkatkan penerimaan masyarakat tentang profesi keperawatan dengan mendidik perawat yang mempunyai sikap profesional dan bertanggung jawab dalam pekerjaan.
c. Meningkatkan komunikasi antar staf.
d. Meningkatkan pelaksanaan kegiatan umum dalam upaya mempertahankan kenyamanan klien.
e. Meningkatkan hubungan dengan klien, keluarga, dan masyarakat.
f. Meningkatkan produktifitas dan kualitas kerja staf keperawatan.
Dengan demikian setiap kegiatan keperawatan diarahkan pada pencapaian tujuan dan merupakan upaya manager keperawatan untuk selalu mengkoordinasikan, mengarahkan, mengendalikan proses pencapaian tujuan melalui interaksi, komunikasi dan integrasi pekerjaan diantara staf keperawatan yang terlibat.

5. Fungsi Manajemen
Fungsi manajemen adalah elemen- elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat didalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan.
Fungsi menajemen secara ringkas adalah sebagai berikut:
a. Perencanaan (Planning)
Perencanaan adalah keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang hal-hal yang akan dikerjakan dimasa mendatang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan (Siagian, 1990). Sedangkan menurut Fayol didalam Swansburg (2000) mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan manajemen adalah membuat suatu rencana untuk memberikan pandangan kedepan. Perencanaan merupakan fungsi manajemen yang penting karena mengurangi risiko pembuatan keputusan yang kurang tepat atau membantu mengantisipasi jika suatu proses tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Perencanaan ialah, “suatu keputusan untuk masa yang akan datang. Artinya, apa, siapa, kapan, dimana, berapa, dan bagaimana yang akan dan harus dilakukan untuk mencapai tujan tertentu”. Secara umum, perencanaan dapat ditinjau sebagai suatu:
1) Proses: pemilihan dan pengembangan tindakan yang paling menguntungkan untuk mencapai tujuan.
2) Fungsi: pemimpin dengan kewenangannya dapat mengubah kegiatan dan tujuan yang harus dicapai organisasi.
3) Keputusan: apa yang akan dilakukan untuk waktu yang akan datang.

b. Pengorganisasian (Organizing)
Pengertian pengorganisasian dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu secara statis dan dinamis. Organisasi dilihat secara statis, yaitu sebagai wadah kegiatan sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan secara dinamis, yaitu bahwa organisasi merupakan suatu aktivitas dari tata hubungan kerja yang teratur dan sistematis untuk mencapai tujuan tertentu. (Suchri Suarli dan Yanyan Bachtiar, 2007).
Pengorganisasian adalah pengelompokan aktivitas-aktivitas untuk tujuan mencapai objektif, menentukan cara untuk pengorganisasian aktivitas yang tepat dengan unit lainnya baik secara vertikal maupun horizontal yang bertanggungjawab untuk mencapai objektif organisasi (Swansburg, 2000).
Prinsip-prinsip pengorganisasian diantaranya sebagai berikut :
1) Organisasi (harus) mempunyai tujuan yang jelas (clearly objective).
2) Adanya skala hierarki (the scalar principle).
3) Adanya kesatuan komando atau perintah (unity of command).
4) Pelimpahan wewenang (deligation of authority).
5) Adanya pertanggung jawaban (responsibility).
6) Pembagian kerja (division of work).
7) Rentang kendali (span of control).
8) Fungsionalisasi (functionalitation).
9) Adanya pemisahan tugas (task sparation).
10) Fleksibilitas atau kelenturan (flexsibility).
11) Keseimbangan (balance).
12) Kepemimpinan (leadership).

c. Penggerak (Actuating)
Penggerakan adalah melakukan kegiatan untuk mempengaruhi orang lain agar mau dan suka bekerja dalam rangka menyelesaikan tugas, demi tercapainya tujuan bersama. Penggerakan ini, seringkali terjadi hambatan karena yang digerakan adalah manusia, yang mempunyai keinginan pribadi, sikap, dan perilaku yang khusus.
d. Pengendalian (Controling)
Merupakan fungsi pengawasan agar tujuan dapat tercapai sesuai dengan rencana apakah orang-orangnya, cara dan waktunya tepat. Pengendalian juga berfungsi agar kesalahan dapat segera diperbaiki.
Pengawasan adalah suatu proses untuk mengetahui apakah hasil pelaksanaan kegiatan atau pekerjaan sesuai dengan rencana, pedoman, ketentuan, kebijakasanaan, tujuan, sasaran yang sudah ditentukan sebelumnya. (Suchri Suarli dan Yanyan Bahtiar, 2007).
Fungsi manajemen di dalam keperawatan menurut Nursalam (2012) diantaranya adalah :
1) Menurut Gr. Terry
POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controling)
2) Menurut Henry Fayol
POCCC (Planning, Organizing, Commanding, Coordinating, Controling)
3) Menurut Luter Gulliek
POSDCORB (Planning, Organizing, Staffing, Derecting, Coordinating,  Reporting, Budgeting)
4) Menurut Koont O'Donnell
POSDC (Planning, Organizing, Staffing, Derecting, Controling)
Secara umum fungsi manajemen di dalam keperawatan menggunakan sistem POAC yaitu planning (seorang manajer hendaknya dapat menjalankan suatu perencanaan mengenai tenaga, anggaran, bahan, peralatan, metode dan pemasaran), organizing (mampu menyusun atau mengatur staf), actuating (hendaknya manajer diharapkan mampu menggerakan orang lain melaksanakan tugas untuk mencapai tujuan yang dikehendaki), controling (seorang manajer hendaknya mampu mengendalikan dan mengawasi proses manajemen) (Nursalam, 2012).


6. Tahapan Manajemen
a. First line management (manajemen operasional) merupakan manajemen tingkatan paling rendah yang bertugas memimpin dan mengawasi karyawan non manajerial yang terlibat dalam proses produksi. Mereka sering disebut supervisor, manajer shift, manajer kantor, manajer departemen, atau mandor (foreman)
b. Middle management (manajemen tingkat menengah) mencakup semua manajemen yang berada di antara manajer pertama dan manajer puncak yang bertugas sebagai penghubung antara keduanya. Jabatan yang termasuk manajer menengah yaitu kepala bagian, pemimpin proyek, manajer pabrik, atau manajer divisi.
c. Top management (manajemen puncak), dikenal pula dengan istilah executive officer bertugas merencanakan kegiatan dan strategi perusahaan secara umum dan mengarahkan jalannya perusahaan secara umum dan mengarahkan jalannya perusahaan secara umum dan mengarahkan jalannya perusahaan. Contoh top manajemen adalah CEO (Chief Executive Officer), CIO (Chief Information Officer) dan CFO (Chief Financial Officer).

7. Kerangka Konsep, Filosofi dan Misi
Manajemen keperawatan dalam memberikan arah kepada pencapaian tujuan serta menghadapi masalah – masalah manajerial dimasa mendatang perlu untuk merumuskan kerangka konsep, keyakinan dasar, filisofi dan tujuan manajemen keperawatan.
a. Kerangka Konsep
Kerangka konsep manajemen keperawatan adalah manajemen partisipatif yang berlandaskan kepada paradigma keperawatan yaitu manusia, keperawatan, kesehatan dan lingkungan. Kerangka konsep manajemen keperawatan ini perlu dipahami sehingga para manajer keperawatan akan dapat menatalaksanakan pekerjaannya guna menunjang praktek keperawatan. Adapun kerangka konsep manajemen keperawatan adalah sebagai berikut :
1) Manusia akan tertarik dan terikat pada pekerjaannya dan akan memberikan upaya yang selayaknya dia diberikan.
2) Jika diberikan informasi yang bermanfaat dan layak, individu akan membuat keputusan terbaik.
3) Tujuan kelompok akan lebih mudah dicapai kelompok.
4) Setiap individu memiliki karakteristik latar belakang motivasi, minat dan cara untuk mencapai tujuan.
5) Fungsi koordinasi dan pengendalian amat pening dalam pencapaian tujuan.
6) Persamaan kualifikasi harus dipertimbangkan dalam pembagian kewenangan dan tanggung jawab.
7) Individu memiliki hak dan tanggung jawab untuk membagi dan mendelegasikan kewenangannya pada mereka yang terbaik dalam organisasi.
8) Pengetahuan dan keterampilan amat diperlukan dalam pengambilan keputusan yang profesional.
9) Semua sistem berfungsi untuk mencapai tujuan dan merupakan tanggung jawab bersama untuk secara terus - menerus (Suyanto, 2008).
b. Filosofi Manajemen Keperawatan
Adalah pernyataan keyakinan tentang keperawatan dan manifestasi dari nilai-nilai dalam keperawatan yang digunakan untuk berfikir dan bertindak (Chitty, 1997 dalam Nursalam, 2012). Manajemen keperawatan memiliki filosofi sebagai berikut :
1) Mengerjakan hari ini lebih baik dari pada hari esok.
2) Manajerial keperawatan merupakan fungsi utama pimpinan keperawatan.
3) Meningkatkan mutu kinerja perawat.
4) Perawat memerlukan pendidikan berkelanjutan.
5) Proses keperawatan menjamin perubahan tingkat kesehatan hingga mencapai keadaan fungsi optimal.
6) Tim keperawatan bertanggung jawab dan bertanggung gugat untuk setiap tindakan keperawatan yang diberikan.
7) Menghargai pasien dan haknya untuk mendapatkan asuhan keperawatan yang bermutu.
8) Perawat adalah advokat pasien.
9) Perawat berkewajiban untuk memberikan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga. (Suyanto, 2008)
c. Misi
Menurut Nursalam (2007) misi manajemen keperawatan adalah :
1) Menyediakan asuhan keperawatan yang efektif dan efisien dalam membantu kesehatan pasien yang optimal setelah pulang dari rumah sakit.
2) Membantu mengembangkan dan mendorong suasana yang kondusif bagi pasien dan staf keperawatan/non keperawatan.
3) Mengajarkan, mengarahkan, dan membantu dalam kegiatan profesional keperawatan.
4) Turut serta dan bekerja sama dengan semua anggota tim kesehatan yang ada di rumah sakit/tempat kerja.
Inti konsep dasar manajemen saat ini dan yang akan datang, adalah keseimbangan antara visi, misi dan motifasi yang jelas dalam mencapai tujuan organisasi yang telah di tetapkan. Proses keperawatan yaitu pengakuan masyarakat  atau profesi lain tentang ekstisensi profesi keperawatan, partisifasi profesi keperawatan dalam pembangunan kesehatan, dan citra profesi keperawatan.
Penjabaran visi dan misi dalam pelayanan keperawatan di rumah sakit, menurut Gillies (1989) dalam Nursalam (2002) di kutip dari filosofi pelayanan keperawatan di Rumah Sakit Pedleton Memorial, New Orleans, Lousiana USA adalah sebagai berikut:
a. Mengaplikasikan kerangka konsep dan acuan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan.
b. Mengevaluasi asuhan keperawatan yang di berikan.
c. Menerapkan srtategi dalam meningkatkan kualitas dan pelayanan yang efisien kepada semua konsumen.
d. Meningkatkan hubungan yang baik dengan semua tim kesehatan menilai kualitas pelayanan yang di berikan berdasarkan standar kriteria yang ada.
e. Mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu dalam menilai dan memberikan intervensi keperawatan kepada pasien.
f. Meningkatkan pendidikan berkelanjutan (formal maupun nonformal) bagi perawat dalam usaha meningkatkan kinerjanya.
g. Berpartisipasi secara aktif dalam upaya perubahan model asuhan keperawatan dan peningkatkan kualitas pelayanan.
h. Menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan melibatkan staf dalam setiap pengambilan keputusan yang menyangkut tentang asuhan keperawatan.
i. Memberikan penghargaan kepada staf yang dianggap berprestasi.
j. Konsisten untuk selalu meningkatkan ptoduksi atau pelayanan yang terbaik.
k. Meningkatkan pandangan masyarakat yang positif tentang profesi keperawatan.

8. Proses Manajemen Keperawatan
a. Pengkajian-Pengumpulan Data
Proses adalah suatu rangkaian tindakan yang mengarah pada suatu tujuan. Di dalam proses keperawatan, bagian akhir mungkin berupa sebuah pembebasan dari gejala, eliminasi resiko, pencegahan komplikasi, agumentasi pengetahuan atau keterampilan kesehatan dan kemudahan dari kebebasan maksimal. Di dalam proses manajemen keperawatan, bagian akhir adalah perawatan yang efektif dan ekonomis bagi semua kelompok pasien (Nursalam, 2012).
Data-data yang perlu dikumpulkan oleh perawat pada tingkat pelayanan diruangan atau sebagian pendekatan system yang disampaikan oleh Gillies (1989) dalam Nursalam (2012).
b. Perencanaan
1) Definisi
Perencanaan adalah keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang hal-hal yang akan dikerjakan di masa yang akan datang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan (Siagian, 2001).
Perencanaan dimaksudkan untuk menyusun suatu perencanaan yang strategis dalam mencapai suatu tujuan organisasi yang telah ditetapkan yaitu :
a) Menentukan kebutuhan dalam asuhan keperawatan.
b) Menegakan tujuan.
c) Mengalokasikan anggaran belanja.
d) Memutuskan ukuran dan tipe tega keperawatan yang dibutuhkan.
e) Membuat pola struktur organisasi.
f) Menegakan kebijaksanaan.
g) Prosedur operasional untuk mencapai visi misi yang ditetapkan.
2) Tujuan perencanaan menurut Douglas
a) Hal tersebut menimbulkan keberhasilan dalam mencapai sasaran dan tujuan.
b) Hal tersebut bermakna pada pekerjaan.
c) Hal tersebut memberikan penggunaan efektif dari personel dan fasilitas yang tersedia.
d) Hal tersebut efektif dalam hal biaya.
e) Hal tersebut berdasarkan masa lalu dan akan datang, sehingga membantu elemen perubahan.
f) Hal tersebut dapat digunakan untuk menemukan kebutuhan untuk berubah.
g) Hal tersebut diperlukan untuk kontrol yang efektif.
3) Langkah – langkah perencanaan
a) Pahami dan tentukan misi, filosofi dan tujuan.
b) Kumpulkan data.
c) Analisa.
d) Buat alternatif.
e) Pilih dan usulkan alternatif.
f) Pimpinan menetapkan alternatif.
g) Susun rencana.
h) Kaji ulang.
4) Tahapan dalam perencanaan
a) Pengumpulan data
(1) Sensus pasien harian.
(2) Kapasitas tempat tidur.
(3) BOR.
(4) Rata- rata lama dirawat.
(5) Kecenderungan populasi pasien.
(6) Perkembangan teknologi.
(7) Ketenagaan.
b) Analisa lingkungan
(1) Internal : strength, weakness.
(2) Eksternal : opportunity, threats.
c) Pengorganisasian data
d) Pilih data penunjang dan penghambat
e) Pembuatan rencana

c. Pelaksanaan
Karena manajemen keperawatan memerlukan kerja melalui orang lain, maka tahap implementasi dalam proses manajemen terdiri atas bagaimana manajer memimpin orang lain untuk menjalankan tindakan yang telah direncanakan. Fungsi kepemimpinan dapat dibagi lagi dalam komponen fungsi yang terdiri atas kepemimpinan, komunikasi dan motivasi (Nursalam, 2012).
d. Evaluasi
Tahap akhir proses manajerial adalah mengevaluasi seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan. Tujuan evaluasi disini adalah untuk menilai seberapa jauh staf mampu melaksanakan tugasnya sesuai dengan tujuan organisasi yang telah ditetapkan serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat dan mendukung dalam pelaksanaan (Nursalam, 2012).

B. KONSEP MANAJEMEN ASUHAN KEPERAWATAN
Menurut Gilles (2005) manajemen keperawatan diartikan sebagai proses pelaksanaan pelayanan keperawatan melalui upaya staff keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan, pengobatan dan rasa aman kepada pasien, keluarga serta masyarakat. Oleh karena itu, sesuai dengan pendekatan sistem terbuka, manajemen keperawatan terdiri atas beberapa komponen yang saling berinteraksi. Pada umumnya suatu sistem dicirikan oleh 5 elemen, yaitu: input, proses, output, kontrol dan mekanisme umpan balik.
Manajemen keperawatan mempunyai lingkup manajemen operasional untuk merencanakan, mengatur dan menggerakkan karyawan dalam memberikan pelayanan keperawatan sebaik-baiknya pada pasien, diperlukan suatu standar yang akan digunakan baik sebagai target maupun alat pengontrol pelayanan tersebut (Supriyatno, Heru, 2005).

1. Konsep Asuhan Keperawatan
a. Perencanaan
1) Definisi
Perencanaan merupakan keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang hal-hal yang akan dikerjakan di masa yang akan datang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan (Siagian, 2001). Perencanaan merupakan proses pemilihan dan pengembangan tindakan yang paling baik dan menguntungkan, serta merupakan fungsi dasar dalam management untuk mengarahkan pada keberhasilan pencapaian tujuan, memberi arti pada pekerjaan, penggunaan sumber efektif dan efisien, menguasai situasi kritikal, mengetahui kebutuhan akan perubahan (Elly dan Nurachmah,  2000).
2) Tujuan
a). Menimbulkan keberhasilan dalam mencapai tujuan.
b). Bermakna pada pekerjaan.
c). Penggunaan efektif personel dan fasilitas.
d). Membantu koping.
e). Efektif dalam biaya.
f). Berdasarkan masa lalu dan akan datang sehingga membantu menurunkan elemen perubahan.
g). Dapat digunakan untuk menemukan kebutuhan untuk berubah.
h). Diperlukan untuk kontrol efektif.
3) Jenis perencanaan
a). Perencanaan strategis
Dibuat oleh Top Manager (Ka. Bidang Keperawatan), bersifat strategis, berjangka panjang, mengatur kinerja bidang, terdapat komitmen antara atasan dan bawahan.
b). Perencanaan operasional
Dilakukan oleh top manager; merupakan kegiatan harian, mingguan, dan bulanan; berjangka pendek; berasal dari tujuan jangka panjang.
c). Perencanaan bagian
Dibuat oleh beberapa kepala ruangan dan pengawas dalam satu bagian; berjangka 5-10 tahun; tujuan untuk pemantauan dan penilaian; pelaksanaannya semua ruangan yang terlibat.
d). Perencanaan unit
Dibuat oleh kepala ruangan; tujuan untuk bidang keperawatan; dilaksanakan harian yaitu kegiatan askep,mingguan yaitu program penyuluhan, dan jangka panjang.
4) Kegunaan
a). Mengatasi masalah yang dihadapi.
b). Mempermudah pencapaian tujuan.
c). Mempermudah pembuatan kembali rencana baru.
5) Keuntungan
a). Kegiatan terarah.
b). Pengguanaan sumber daya lebih efisien dan efektif.
c). Menurunkan resiko.
d). Landasan kuat untuk pengendalian.
e). Permudah evaluasi dan perbaikan kekurangan.
6) Kendala
a). Kurang terampil pada perencana.
b). Kesulitan memahami tujuan.
c). Keraguan karena keterbatasan wewenang.
d). Kurang dukungan.
b. Pengorganisasian
1) Definisi
Pengorganisasian adalah keseluruhan pengelompokkan orang-orang, alat-alat, tugas-tugas, kewenangan dan tanggung jawab sedemikian rupa sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kegiatan kesatuan yang telah ditetapkan (Siagian, 1983 dalam Juniati 1995). Sedangkan menurut Szilagji (1983, dalam Juniati 1995) mengemukakan bahwa fungsi pengorganisasian merupakan proses mencapai tujuan dengan koordinasi kegiatan dan usaha melalui penataan pola struktur, tugas, otoritas, tenaga kerja dan komunikasi.
Pengorganisasian merupakan pengelompokkan yang terdiri dari beberapa aktifitas dengan sasaran untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan masing-masing kelompoknya untuk melakukan koordinasi yang tepat dengan unit lain secara horizontal dan vertikal untuk mencapai tujuan organisasi sebagai organisasi yang komplek, maka pelayanan keperawatan harus mengorganisasikan aktivitasnya melalui kelompok-kelompok sehingga tujuan pelayanan keperawatan akan tercapai (Juniati, 1995).
Dari berbagai pengertian di atas maka penulis mengambil kesimpulan bahwa pengorganisasian merupakan langkah untuk menetapkan, menggolongkan, dan mengatur berbagai macam kegiatan, penetapan tugas-tugas dan wewenang sehingga tujuan pelayanan keperawatan akan tercapai.
2) Fungsi pengorganisasian
Alat untuk memadukan (sinkronisasi) antara personil, finansial, material dan tata cara.
3) Manfaat pengorganisasian
a) Pembagian tugas untuk perorangan dan kelompok.
b) Hubungan organisatoris antar orang-orang di dalam organisasi tersebut melalui kegiatan yang dilakukannya.
c) Pendelegasian wewenang.
d) Pemanfaatan staf dan fasilitas fisik.
4) Prinsip-prinsip pengorganisasian
a) Pembagian kerja.
b) Pendelegasian tugas.
c) Koordinasi.
d) Manajemen waktu.
c. Pelaksanaan
1) Definisi
Pelaksanaan merupakan suatu inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik (lyer et.al, 1996).
2) Tujuan
Tujuan dari tindakan pelaksanaan adalah untuk membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan, dan memfasilitasi koping sehingga diperlukan partisipasi dari pasien/klien.
3) Tahap-tahap tindakan perawatan
a) Persiapan, terdiri dari :
(1) Review antisipasi tindakan keperawatan, yaitu konsisten dengan rencana, prinsip ilmiah, sesuai kondisi klien, menciptakan lingkungan terapeutik dan aman, pendidikan kesehatan, sarana dan prasarana memadai.
(2) Menganalisa pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan, yaitu dengan mengidentifikasi orang yang tepat melakukan tindakan.
(3) Mengetahui komplikasi yang mungkin timbul, yaitu resiko komplikasi sehingga dilakukan pencegahan.
(4) Mempersiapkan peralatan yang diperlukan, yaitu waktu, tenaga, alat.
(5) Mempersiapkan lingkungan yang kondusif, yaitu lingkungan fisik dan psikologis.
(6) Mengidentifikasi aspek hukum dan etik, yaitu hak dan kewajiban klien; hak dan kewajiban perawat/dokter; kode etik keperawatan yaitu pertanggung jawaban moral perawat dalam mengambil keputusan berdasarkan client's welfare, persetujuan, penolakan, privacy dan perawat sebagai advocat terhadap klien; hukum keperawatan yaitu memberikan tindakan keperawatan sesuai dengan standar keperawatan.
b) Intervensi
(1) Independen
Independen merupakan kegiatan yang dilakukan oleh perawat tanpa petunjuk/perintah dokter atau tenaga kesehatan lainnya. Tipe tindakan independen, yaitu :
• Tindakan diagnostik: pengkajian dalam merumuskan diagnosa keperawatan.
• Tindakan terapeutik: mencegah, mengurangi, mengatasi masalah klien seperti mobilisasi.
• Tindakan edukatif: merubah perilaku melalui promosi kesehatan dan pendidikan kepada klien.
• Tindakan merujuk : kemampuan mengambil keputusan untuk melakukan kerjasama dengan tim kesehatan lain misal adanya TITIK rujuk ke ahli saraf.
(2) Dependen
Berhubungan dengan pelaksanaan rencana tindakan medis misalnya perawatan colostomy, memberikan obat.
(3) Interdependen
Interdependen merupakan kegiatan yang memerlukan kerjasama dengan tenaga kesehatan lainnya misalnya tenaga sosial, ahli gizi, fisioterapi dan dokter.
c) Dokumentasi
(1) Sources oriented record.
(2) Problem oriented record.
(3) Computer assisted record.
d) Evaluasi
(1) Definisi
Evaluasi merupakan tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. Evaluasi juga merupakan bagian integral dari setiap tahap proses keperawatan.
(2) Tujuan evaluasi
(a) Mengakhiri rencana tindakan keperawatan (klien telah mencapai tujuan yang ditetapkan).
(b) Memodifikasi rencana tindakan keperawatan (klien mengalami kesulitan dalam mencapai tujuan).
(c) Meneruskan rencana tindakan keperawatan (klien memerlukan waktu yang lebih lama untuk mencapai tujuan).
(3) Proses evaluasi
(a) Mengukur pencapaian tujuan klien
• Kognitif (pengetahuan) : interview (recall knowledge, komprehensif, aplikasi fakta), tulisan.
• Afektif (status emosional) : observasi langsung, feedback dari rekan.
• Psikomotor : melihat kemampuan klien dalam melakukan sesuatu.
• Perubahan fungsi tubuh dan gejala.
(b) Penentuan keputusan pada tahap evaluasi
• Formatif : dilakukan secara langsung setelah tindakan dilakukan.
• Sumatif : setelah akhir tindakan keperawatan klien.
(c) Komponen evaluasi
• Menentukan kriteria standar dan pertanyaan evaluasi:
- Kriteria : outcomes/kriteria hasil
- Standar praktek
• Mengumpulkan data mengenai keadaan klien terbaru : perawat yang mengkaji dan merencanakan bertanggung jawab dalam evaluasi.
• Menganalisa dan membandingkan data terhadap kriteria dan standar: kritikal thinking dalam menganalisa data.
• Merangkum dan membuat kesimpulan: menyimpulkan efektifitas semua tindakan yang telah dilaksanakan.

Wednesday, November 29, 2017

ANALISA KEBUTUHAN TENAGA KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT

analisa kebutuhan tenaga keperawatan di rumah sakit


PENDAHULUAN
Perawat dalam memberikan pelayanan mempunyai kontribusi yang sangat besar karena secara kuantitatif jumlahnya besar, yaitu meliputi 60, 70 % dari tenaga yang ada (Gillies, 1993), di Indonesia Tenaga Perawat dan Bidan menempati urutan jumlah terbanyak, yaitu 40 % dari tenaga yang ada (Depkes, 2001) dan waktu yang diberikan adalah terus menerus selama 24 jam. 

Agar dapat memberikan pelayanan bermutu maka diharapka manager keperawatan mampu merencanakan kebutuhan tenaga baik kuantitas maupun kualitasnya. 

Analisis Situasi Tenaga Keperawatan di Rumah Sakit
Pada dasarnya semua metoda ataupun formula yang telah dikembangkan untuk menghitung tenaga keperawatan di rumah sakit berakar pada beban kerja dan personal yang bersangkutan. 

Analisis kebutuhan tenaga keperawatan harus betul-betul direncanakan dengan baik agar tidak dilakukan berulang- ulang karena akan membutuhkan waktu, biaya, dan tenaga sehingga tidak efektif dan efisien. 

Beberapa Situasi Yg Dipertimbangkan Saat Analisa Ketenagaan
1. Adanya perluasan rumah sakit sehingga berdampak pada penambahan atau perubahan kapasitas tempat tidur hal ini akan berdampak pada perubahan ratio kebutuhan tenaga keperawatan.
2. Adanya berbagai perubahan jenis pelayanan dan fasilitas rumah sakit, yang akan berdampak pada peningkatan Bed Occupancy Rate (BOR), yang pada akhirnya perlu analisa situasi dan kebutuhan tenaga. Hal ini perlu diantisipasi sebelumnya sehingga pelayanan dapat terlaksana dengan optimal.
3. Adanya penurunan motivasi, penurunan prestasi kerja seperti : sering tidak masuk, datang terlambat, penyelesaian pekerjaan semakin lambat. kurangnya perhatian pimpinan, tidak ada reward, beban kerja yang berat serta tenaga yang kurang. Analisa Ketenagaan.
4. Adanya keluhan klien tentang pelayanan yang diterima. Apakah klien mengeluh tentang tentang pelayanan dengan mengatakan puas stau tidak puas. Biasanya klien mengeluh tentang tenaga keperawatan, biaya perawatan, dan fasilitas yang diterima. Apabila keluhan ini telah teridentifikasi maka perlu dilakukan analisa ketenagaan. Keluhan dapat terjadi di unit rawat jalan maupun unit rawat inap.

Metoda Menetapkan Kebutuhan Tenaga Keperawatan di Rumah Sakit
• Metoda Rasio
• Metoda Gillies
• Metoda Demand
• Metoda Need ( Douglas )
• Metoda Depkes 2001

1. Metode Rasio
Metode rasio ini Berdasarkan perbandingan antara jumlah tempat tidur dan personal yang diterapkan berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan No. 262/ Menkes/Per/VII/79.
Metoda ini hanya mengetahui jumlah personal secara total tetapi tidak dapat mengetahui produktifitas SDM rumah sakit, dan berapa jumlah personal yang dibutuhkan pada tiap unit atau ruangan. 

contoh tabel metode rasio

Keterangan :
TM     = Tenaga Medis
TPP     = Tenaga Paramedis Perawatan
TNPP     = Tenaga Non Paramedis Perawatan
T NON P    = Tenaga Non Perawatan
TT     = Tempat Tidur

2. Metode Demand
Perhitungan jumlah tenaga menurut kegiatan yang memang nyata dilakukan oleh perawat.

contoh tabel metode demand
 
3. Metode Gillies
Perawatan Langsung
Perawatan langsung adalah bentuk pelayanan yang diberikan oleh perawat yang ada hubungannya dengan kebutuhan fisik, psikologis dan spritual.
Berdasarkan tingkat ketergantungan klien pada perawat maka dapat diklasifikasikan dalam empat kelompok yaitu : self care, partial care, total care, dan intensive care.
Menurut Minetti Hutchinson (1994) kebutuhan perawatan langsung setiap klien adalah empat jam per hari sedangkan untuk :
- Self Care      dibutuhkan ½ X 4 jam = 2 jam
- Partial care     dibutuhkan 3/4 X 4 jam = 3 jam
- Total care     dibutuhkan 1- 1½ X 4 jam = 4 – 6 jam      
- Intensive care dibutuhkan 2 X 4 Jam = 8 jam

Perawatan Tidak Langsung
Meliputi kegiatan-kegiatan membuat rencana keperawatan, menyiapkan dan memasang alat, konsultasi dengan tim, menulis dan membaca catatan kesehatan klien, melaporkan kondisi klien.
Dari hasil penelitian di Rumah Sakit Detroit dibutuhkan waktu 38 menit/Klien (Gillies, 1989) , sedangkan di RS Jhon Hopkin dibutuhkan 60 menit per klien (Gillies 1994), menurut Young (Gillies, 1989) adalah 60 menit/Klien.
Pendidikan kesehatan
Meliputi : aktifitas, pengobatan serta tindak lanjut pengobatan. Menurut Meyer dalam Gillies (1994) waktu yang dibutuhkan adalah 15 menit per hari per klien.
Menentukan jumlah perawat yang diperlukan untuk masing-masing unit dengan menggunakan,:
    Formula berikut (Arndt and Huckabay dalam Gillies, 1994).
     A x B x C   =   F  =  H   
     (C – D) E       G

Keterangan :
    A = rata-rata jumlah jam perawatan/klien/hari
    B = rata-rata jumlah klien per hari
    C = jumlah hari per tahun
    D = hari libur masing-masing perawat
    E = jumlah jam kerja masing-masing perawat
    F = jumlah jam perawatan yang dibutuhkan per tahun
    G = jumlah jam perawatan yang diberikan pertahun
    H = jumlah perawat yang dibutuhkan unit tersebut    

Rata-rata klien per hari, adalah jumlah klien yang dirawat di suatu unit berdasarkan rata-ratanya atau menurut “ Bed Occupancy Rate (BOR) “ dengan rumus :
     Jumlah hari perawatan RS dalam waktu tertentu   x 100 %
              Jumlah Tempat Tidur X 365 hari
Jumlah hari per tahun, yaitu 365 hari
Hari libur masing-masing perawat per tahun, yaitu 128 hari (52 hari minggu, hari sabtu 52 hari (tergantung RS) kalau hari ini termasuk hari libur harus diperhitungkan, hari libur nasional 12 hari, dan cuti tahunan 12 hari).
Jumlah jam kerja tiap perawat adalah : 40 jam per minggu (bila hari efektif 5 hari maka 40/5 = 8 jam per hari, kalau 6 hari 40/6 = 6,6 jam per hari (7 jam)
Jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan di satu unit harus ditambah 20 % (untuk antisipasi kekurangan/cadangan).

4. Metode Need (Douglas)
Kategori I : Self Care / Perawatan Mandiri
Kegiatan sehari-hari dapat dilakukan sendiri, penampilan secara umum baik, tidak ada reaksi emosional, klien memerlukan orientasi waktu, tempat dan pergantian shift, tindakan pengobatan biasanya ringan dan sederhana.
Kategori II : Intermediate Care/ perawatan Sedang
Kegiatan kebutuhan sehari-hari untuk makan dibantu, mengatur posisi waktu makan, eliminasi dan kebutuhan diri juga dibantu atau menyiapkan alat untuk kekamar mandi. Penampilan klien sakit sedang. Tindakan perawatan pada klien ini memonitor tanda-tand avital, periksa urine reduksi, fungsi fisiologis, status emosional, kelancaran drainage dan infus. Klien memerlukan bantuan pendidikan kesehatan untuk support emosi 5 – 10 menit/shift. Tindakan dan pengobatan 20 – 30 menit atau 30 – 60 menit per shift untuk observasi side effek obat atau reaksi alergi.
Kategori III : Intensive Care / Perawatan total
Kebutuhan sehari-hari tidak dapat dilaksanakan sendiri, semua dibantu oleh perawat, penampilan sakit berat. Klien memerlukan observasi terus menerus. 

contoh tabel metode need douglas
 
Petunjuk Penetapan Jumlah Klien Berdasarkan Derajat Ketergantungan
Dilakukan 1 kali sehari pada waktu yang sama dan sebaiknya dilakukan oleh perawat yang sama selama 22 hari.
Setiap klien dinilai berdasarkan kriteria klasifikasi klien (minimal 3 kriteria)
Kelompokkan klien sesuai degan klasifikasi tersebut dengan memberi tanda tally (1) pada kolom yang tersedia sehingga dalam waktu satu hari dapat diketahui berapa jumlah klien yang ada dalam klasifikasi minimal, partial, dan total.
Bila klien hanya mempunyai 1 kriteria dari klasifkasi tersebut, maka klien dikelompokkan pada klasifikasi diatasnya.

Standar Ketenagaan Keperawatan (perawat & bidan) di Rumah Sakit Depkes RI

Pedoman cara penghitungan tenaga keperawatan menurut Direktorat Pelayanan Keperawatan Dirjen Yan-Med depkes RI (2001) dengan memperhatikan unit kerja yang ada pada masing-masing Rumah Sakit.
Berdasarkan klasifikasi klien, cara perhitungan berdasarkan :
 -  Tingkat ketergantungan klien berdasarkan jenis kasus
 -   Rata-rata jumlah klien/hari
 -  Jam perawatan yang diperlukan /hari/klien
 -  Jam perawatan yang diperlukan / ruangan/hari
 -  Jam kerja efektif setiap perawat / Bidan 7 jam/hari
contoh tabel menentukan kebutuhan perawatan menurut depkes

Berdasarkan Tingkat Ketergantungan Klien
Klien dikategorikan dalam beberapa kategori yang didasarkan pada kebutuhan terhadap asuhan keperawatan/asuhan kebidanan meliputi :
Asuhan keperawatan minimal
Asuhan keperawatan sedang
Asuhan keperawatan agak berat
Asuhan keperawatan maksimal
tabel askep
Jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan :
Jumlah Jam perawatan ruangan/hari   =   87,37   = 12, 5 orang
Jam efektif perawat                           7
Untuk penghitungan jumlah tenaga tersebut perlu ditambah (faktor koreksi) dengan :
Loss Day
Non Nursing Jobs

Rumus seperti pada perhitungan klasifikasi klien
Jadi tenaga yang dibutuhkan : Tenaga tersedia + faktor koreksi
                                               =  12, 5 + (3, 4 + 3, 9)
                                               = 19, 8 (dibulatkan 20 orang perawat)








Tuesday, November 7, 2017

PERENCANAAN STRATEGIS MANAJEMEN UNIT/RUANGAN DI RUMAH SAKIT MELALUI PENDEKATAN ANALISA SWOT

PERENCANAAN STRATEGIS  MANAJEMEN UNIT/RUANGAN DI RUMAH SAKIT MELALUI PENDEKATAN ANALISA SWOT

A. PENDAHULUAN
Proses perencanaan strategis menurut Freud R David, dilakukan melalui 3 tahapan analisis dengan menggunakan berbagai matriks sebagai model analisanya, berikut ini adalah gambaran kerangka kerja analisa perumusan strategi.
Gambar 1.  Kerangka Formulasi Strategi
PROSES PERENCANAAN STRATEGI MENURUT FREUD R DAVID

Tahap input dari kerangka kerja analisis perumusan strategi yang akan memberikan informasi input untuk matriks tahap mencocokkan (matching stage) dan tahap keputusan (decision stage).

B. ANALISA SWOT
Analisa SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi Rumah Sakit/ Instalasi/ Unit kerja. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat  memaksimalkan kekuatan (Strength) dan peluang (Opportunity), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weakness) dan ancaman (Threath). Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan Rumah Sakit/ Instalasi/ Unit Kerja. Degan demikian perencana strategis (Strategic Planner) harus menganalisis faktor-faktor strategis institusi (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. Hal ini disebut analisa situasi. Model yang populer untuk melakukan analisa situasi adalah Analisa SWOT. Cara melakukan analisa SWOT sebagai berikut :

1. Analisa Lingkungan Internal
Analisa lingkungan internal bertujuan untuk menilai kekuatan dan kelemahan institusi rumah sakit/ instalasi/ unit kerja. Faktor-faktor internal yang dianalsis dapat disesuaikan dengan keunikan dan besar kecilnya institusi yang dimiliki. Sebagai pedoman dalam mengadopsi faktor-faktor internal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :
faktor-faktor analisa lingkungan internal untuk menilai kekuatan dan kelemahan institusi atau instalasimenurut para ahli

faktor-faktor inetrnal dapat ditentukan dengan beberapa cara yang termasuk menghitung rasio, mengukur prestasi, dan membandingkan dengan periode sebelumnya serta rata-rata keberhasilan pencapaian kinerja. Berbagai type survey dapat dikembangkan dan dicatat untuk memeriksa faktor internal seperti moral staf, efisiensi, produktivitas, efektifitas pelayanan dan loyalitas pelanggan.

2. Analisis Lingkungan Eksternal
Tujuan dari analisis lingkungan eksternal adalah untuk mengembangkan daftar terbatas peluang yang dapat dimanfaatkan dan ancaman yang harus dihindari. Faktor-faktor yang harus dianalisis dalam lingkungan ekstrenal dibagi dalam 2 katagori yaitu katagori lingkungan insitusi RS (RS/Instalasi/Unit Kerja)/mikro.  Pada tabel berikut ditunjukkan faktor-faktor yang dianalisis dalam lingkungan eksternal yang dikutif dari Hill & Jones, Duncan, Pearce & Robinson dan Husain Umar.
faktor-faktor yang dianalisa dalam lingkungan eksternal


Lingkungan jauh adalah faktor-faktor yang berada diluar dan tidak berhubungan dengan situasi operasional perusahaan. Dalam tabel diatas terlihat bahwa faktor-faktor utama yang biasa diperhatikan dalam lingkungan jauh pada intinya mencakup faktor politik, ekonomi, sosial dan tehnologi (PEST), yang memberikan kesempatan bagi rumah sakit/instalasi/unit kerja untuk maju sekaligus dapat menjadi hambatan dan ancaman bagi indtitusi tersebut.

Aspek lingkungan industri lebih mengarah kepada aspek persaingan bisnis dimana bisnis rumah sakit berada, yaitu pelayanan kesehatan. Aspek atau variabel yang memperngaruhi kondisi persaingan mengacu kepada Competitive Stragegy dari Michael R. Porter, yaitu ancaman masuk pendatang baru, persaingan sesama institusi dalam bisnis layanan kesehatan, ancaman dari berkembangnya produk tambahan, kekuatan tawar menawar customer dan kekuatan tawar menawar pemasok serta pengaruh kekuatan stakeholder.

3. Analisa Faktor Internal dan Eksternal
contoh tabel analisa internal

contoh tabel analisa eksternal

4. Tabel IFE (Internal Faktor Evaluation)
• Tentukan dalam kolom 1 (5 – 10 kekuatan dan kelemahan)
• Beri bobot masing-masing faktor dalam kolom 2 mulai dari 1,0 (sangat penting) sampai dengan 0,0 (sangat tidak penting) berdasarkan pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap posisi strategis perusahaan (semua bobot bobot jumlahnya tidak boleh melebihi skor total 1)
• Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4(outstanding/paling kuat pengaruhnya) sampai dengan 1 (poor/ paling lemah pengaruhnya)
• Kalikan bobot pada kolom 2 denan rating pada kolom 3. Untuk memperoleh prmbobotan dalam kolom 4. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masingfaktor yang nilanya bervasriasi mulai dari 4,0 (Outstanding) dampai dengan 1,0 (poor)
• Gunakan kolom 5 untuk memberikan komentar/ catatan mengapa faktor-faktor tertentu dipilih dan bagaimana skor pembobotan dihitung
• Jumlahkan skor pembobotan (pada kolm 4) pada masing-masing kekuatan dan kelemahan. Lalu kurangi kekuatan dengan kelemahan untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan

contoh tabel internal faktor evaluation

5. Tabel EFE (Eksternal Faktor Evaluation)
• Susunlah dalam kolom 1 (5 – 10 peluang dan  ancaman)
• Beri bobot masing2 faktor dalam kolom 2 mulai dari 1,0 (sangat penting) sampai dengan 0,0 (sangat tidak penting) berdasarkan pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap posisi strategis perusahaan (semua bobot bobot jumlahnya tidak boleh melebihi skor total 1)
• Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4(outstanding/paling kuat pengaruhnya) sampai dengan 1 (poor/ paling lemah pengaruhnya).
• Kalikan bobot pada kolom 2 denan rating pada kolom 3. Untuk memperoleh prmbobotan dalam kolom 4. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masingfaktor yang nilanya bervasriasi mulai dari 4,0 (Outstanding) dampai dengan 1,0 (poor)
• Gunakan kolom 5 untuk memberikan komentar/ catatan mengapa faktor-faktor tertentu dipilih dan bagaimana skor pembobotan dihitung
• Jumlahkan skor pembobotan (pada kolm 4) pada masing-masing kekuatan dan kelemahan. Lalu kurangi kekuatan dengan kelemahan untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan

contoh tabel eksternal faktor evaluation

6. Anatomi Kuadran/ Posisi Perusahaan
Sumbu X (S: W) = Skor Kekuatan – Skor Kelemahan =
Sumbu Y (O : T) = Skor Peluang – Skor Ancaman =

posisi strategis hasil analisa swot

Penjelasan posisi perusahaan/Institusi/Instalasi/Unit kerja apabila berada di lingkungan kuadran adalah sebagai berikut :
Kuadran  I
1) Merupakan posisi yang sangat menguntungkan
2) Perusahan mempunyai peluang dan kekuatan sehingga ia dapat memanfaatkan peluang yang ada secara maksimal.
3) Seyogyanya menerapkan strategi yang mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif
Kuadran II
1)  Meskipun menghadapi berbagai ancaman, perusahaan mempunyai keunggulan sumber daya
2)  Perusahaan-perusahaan pada posisi seperti ini dapat menggunakan kekuatannya untuk memanfaatkan peluang jangka panjang
3) Dilakukan melalui penggunaan strategi diversifikasi produk atau pasar
Kuadran III
1)  Perusahaan menghadapi peluang pasar yang besar tetapi sumber dayanya lemah
2)  Karena itu tidak dapat memanfaatkan peluang tersebut secara optimal
3)  Fokus strategi perusahaan pada posisi seperti ini ialah meminimalkan kendala-kendala internal perusahaan.
Kuadran IV
1)  Merupakan kondisi yang serba tidak menguntungkan
2)  Perusahaan menghadapi berbagai ancaman eksternal sementara sumber daya yang dimiliki mempunyai banyak kelemahan
3) Strategi yang diambil: defensif, penciutan atau likuidasi


C. THE MATCHING STAGE

1. TOWS MATRIX
TOWS Matrix dapat digunakan untuk mendapatkan strategi alternatif dengan menggabungkan faktor-faktor internal dan eksternal secara bersama-sama. Kekuatan dan kelemahan internal  dirangkum dalam aksis horizontal dengan menggunakan nilai hasil perkalian bobot dan rating kelompok kekuatan dan kelemahan dalam matrix IFE. Peluang dan ancaman eksternal dirangkum dalam aksis vertikal dengan menggunakan nilai dari hasil perkalian dengan rating untuk peluang dan ancaman dalam matriks EFE

TOWS Matrix memerlukan key success factor dari lingkungan eksternal dan internal dengan judgement yang baik. Ada 4 strategi yang dikembangkan dalam TOWS Matrik, yaitu Strategi ST, Strategi WO, Strategi ST dan Strategi WT dengan penjelasan sebagai berikut :
a. Strategi SO (Strength-Opportunities) adalah menggunakan kekuatan internal institusi/ Instalasi/Unit untuk meraih peluang-peluang yang ada diluar institusi/instalasi/unit.
b. Stragegi WO (Weakness-Opportunities) adalah strategoi yang bertujuan untuk memperkecil kelemahan-kelemahan internal institusi/instalasi/unit kerja  dengan memanfaatkan peluang – peluang eksternal.
c. Strategi ST (Strength - Treath) adalah strategi perusahaan untuk menghindari atau mengurangi dampak dari ancaman-ancaman eksternal.
d. Strategi WT (Weakness-Threath) adalah strategi untuk bertahan dengan cara mengurangi kelemahan internal serta menghindari ancaman.

TOWS Matrix terdiri dari 9 sel. Empat sel untuk key succes factor, 4 sel untuk strategi dan 1 sel yang selalu kosong (terletak disebelah kiri atas). keempat sel strategi berlabelkan SO, WO, ST dan WT yang dikembangkan melalui key succes factor pada sel yang bertuliskan S, W, O dan T.

Tahapan penentuan strategi dengan matrik SWOT/ TOWS Matrix adalah sebagai berikut :
a. Buat daftar peluang ekstrenal Institusi RS/ Instalasi/ Unit Kerja
b. Buat ancaman eksternal
c. Buat daftar kekuatan kunci internal
d. Buat daftar kelemahan kunci internal
e. Cocokkan kekuatan-kekuatan internal dan peluang-peluang eksternal dan catat hasilnya dalam sel strategi SO (Future Quadrant)
f.  Cocokkan kelemahan-kelemahan internal dan peluang-peluang eksternal dan catat hasilnya dalam sel strategi WO (Internal Fix-It Quadrant).
g. Cocokkan kekuatan-kekuatan internal dan ancaman-ancaman eksternal dan catat hasilnya dalam strategi ST (External Fix-It Quadrant)
h. Cocokkan kelemahan-kelemahan internal dan ancaman-ancaman eksternal dan catat hasilnya dalam sel strategi WT (Survival Quadrant)

contoh tabel matrix TOWS

2. IE MATRIX
Sebelum menyusun IE Matrix, terlebih dahulu kita harus menyusun matrik IFE dan EFE sebagai beikut :

a. INTERNAL FACTOR EVALUATION (IFE) MATRIX
contoh tabel internal factor evaluation matrix
Tahapan kerja matrik IFE :
a. Identifikasi faktor internal kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness)
b. Tentukan pembobotan untuk setiap faktor antara 1,0 bila berskala tinggi dan begitu pula sebaliknya. Jumlah seluruh bobot harus sebesar 1,0. Nilai bobot dicari dan dihitung berdasarkan rata-rata industrinya
c. Buat nilai atau rating setiap faktor antara 1 dampai 4 dengan nilai sebagai berikut
1 = kelemahan utama (major weakness)
2 = kelemahan kecil (minor weakness)
3 = kekuatan kecil (minor strength)
4 = kekuatan besar (major strength)
Rating mengacu pada kondisi Institusi RS/Instalasi/unit kerja, sedangkan bobot mengnacu pada industri kesehatan dimana Institusi RS/Instalasi/Unit kerja berada.
d. Kalikan bobot dan rating untuk menentukan nilai skornya.
e. Jumlahkan semua skor untuk mendapatkan skor total bagi institusi RS/instalasi/ unit kerja yang dinilai. Nilai rata-rata adalah 2,5. Jika nilainya dibawah 2,5 menandakan bahwa secara internal, perusahaan adalah lemah. Sedangkan bila nilai berada diatas 2,5 menunjukkan posisi internal yang kuat. Jumlah faktor-faktor tidak berdampak pada jumlah bobot, karena ia selalu berjumlah 1,0.

b. EXTERNAL FACTOR EVALUATION (EFE) MATRIX
contoh tabel eksternal factor evaluation matrix
Tahapan kerja matrik EFE :
a. Identifikasi faktor eksternal yang mempunyai dampak penting pada kesuksesan dan kegagalan usaha yang mencakup peluang dan tantangan
b. Buat pembobotan untuk setiap faktor antara 0,0 bila tidak penting dan 1,0 bila semua penting. Jumlah seluruh bobot harus sebesar 1,0
c. Buat nilai atau rating setiap faktor antara 1 dampai 4 dengan nilai sebagai berikut
1 = dibawah rata-rata
2 = rata-rata
3 = diatas rata-rata
4 = sangat bagus
Rating ditentukan berdasarkan efektifitas strategi Institusi RS/Instalasi/unit kerja, dengan demikian nilainya didasarkan pada kondisi Institusi RS/Instalasi/unit kerja tersebut
d. Kalikan bobot dan rating untuk menentukan skor bobot setiap faktor.
e. Jumlahkan semua skor untuk mendapatkan skro total bagi institusi RS/instalasi/ unit kerja yang dinilai. Skor total 4,0 mengindikasikan bahwa Institusi mersepon dengan cara yang luar biasa terhadap peluang-peluang yang ada dan menghindari ancaman-ancaman di pasar industrinya. Sementara skor 1,0 menunjukkan bahwa perusahaan tidak memanfaatkan peluang-peluang yang ada atau tidak menghindari ancaman-ancaman eksternal.

c. IE Matrix
Matrix IE bermanfaat untuk menentukan posisi suatu Institusi/Instalasi/Unit Kerja ke dalam matriks yang terdiri dari 9 sel dengan mempertimbangkan nilai Total IFE dan EFE. Matriks IE menempatkan berbagai unit kerja dari organisasi RS dalam diagram skematis, sehingga disebut matriks portofolio. Matriks IE dengan sumbu horizontal X adalah dilai IFE yang dibagi menjadi 3 daerah, yaitu :
1,0 – 1,99    = IFE lemah
2,0 – 2,99    = IFE rata-rata
3,0 –  4,0    = IFE kuat

Matrik EE dengan sumbu vertikal y adalah nilai EFE yang dibagi menjadi 3 daerah, yaitu :
1,0 – 1,99    = EFE rendah
2,0 – 2,99    = EFE sedang
3,0 –  4,0    = EFE tinggi
gambar diagram internal dan eksternal matrix
IE matrix menghasilkan 3 implikasi strategi yang berbeda, yaitu :
a. Bisnis yang berada pada sel I, II atau IV dapat digambarkan sebagai Growth dan Build, strategi yang cocok bagi SBU ini adalah strategi intensif (market penetration, market development dan produc development) dan strategi integratif (backward integration, forward integration dan horizontal integration)
b. Bisnis yang berada pada sel III, V. VII paling baik dikendalikan dengan Strategi Hold dan Maintain. Strategi yang umum dipakai dalah strategi market penetration dan product development
c. Bisnis yang berada pada sel VI, VIII, IX dapat menggunakan strategi harvest atau divesture

3. MATRIX SPACE TABLE (STRATEGIC POSITION AND ACTION EVALUATION)

Matrix SPACE  dipakai untuk memetakan kondisi institusi ke dalam diagram cartesius yang terdiri dari 4 kuadran dengan skala ukur yang sama. Hasil analisis akan mengindikasikan pemakaian strategi aggressive, conservatif, defensif, atau competitif bagi perusahaan.

Masing-masing sumbu (axis) matrik SPACE menyatakan 2 dimensi yaitu : dimensi internal yang terdiri dari financial strength (FS) dan competitive stability (CS) dan dimensi eksternal yang terdiri dari environmental stability (ES) dan industry strength (IS). Tergantung pada tipe organisasi, berbagai variabel dapat menyusun setiap dimenasi yang digambarkan pada sumbu matriks SPACE. Faktor-faktor yang masuk dalam matriks IFE dan EFE harus dipertimbangkan ketika mengembagkan matriks SPACE, Variabel-variabel yang ada pada matriks SPACE harus dirancang sedemikian rupa sehingga menghasilkan data dan infromasi keuangan sebanyak dan selengkap mungkin. Misalnya mengenai return on investmen, leverage, liquidity, working capital dan cashflow.
tahap kerja matrix space
Tahapan kerja matriks SPACE :
a. Pilih sejumlah variabel untuk mengukur FS, IS, ES dan CA
b. Beri tanda dengan angka berurutan dari +1 (paling buruk) sampai +4 (paling baik) untuk variabel-variabel dari dimensi FS dan IS. Beri tanda dengan angka berurutan -1 (paling baik) sampai -4( paling buruk bagi variabel – variabel pada dimensi ES dan CA

c. Hasil Rating Matrix SPACE :
• FS = (jumlah FS) : jumlah option = …
• ES = (jumlah ES) : jumlah option = ...
• IS = (jumlah IS) : jumlah option = …
• CA = (jumlah CA) : jumlah option = …
Kemudian yang dipergunakan sebagai X aksis adalah :
• X = IS + CA = …
• Y = FS + ES = …
Kemudian masukkan dalam matrix space.
gambar diagram cartesius dari matrix space dan alternatif strateginya

Penjelasan :
1. Strategi Aggressive
a. Market Penetration
 Adalah strategi untuk meningkatkan pangsa pasar untuk produk atau jasa dalam pasar yang ada sekarang melalui usaha-usaha pemasaran untuk intensif. Strategi ini dipilih bila : pasar sekarang belum jenuh, penggunaan dari pelanggan meningkat, pangsa pasar dari pesaing menurun sedang penjualan total dari industri meningkat atau kolerasi antar keuntungan dan biaya pemasar tinggi.
b. Market Development
 Adalah strategi mengenal produk atau jasa yang ada ke daerah yang baru. Strategi ini dipilih bila terdapat jaringan distribusi baru yang murah, baik, dan dapat diandalkan, organisasi sangat sukses, pasar belum jenuh, atau organisasi mempunyai kapasitas produk yang berlebih.
c. Product Development
 Adalah strategi yang berusaha meningkatkan penjualan dengan jalan memperbaiki atau memodifikasi produk atau jasa yang ada. Strategi ini dipilih bila organisasi mempunyai produk sukses yang sudah dalam tahap matang dengan menarik pelanggan yang puas terhadap produk baru, persaingan industri dengan ciri teknologi yang cepat berkembang, pesaing utama menawarkan produk dengan kualitas yang lebih baik dengan harga bersaing, organisasi bersaing dalam industri dengan pertumbuhan tinggi atau mempunyai kemampuan riset dan pengembangan yang kuat.
d. Backward Integration
 Adalah strategi untuk mendapatkan atau meningkatkan control terhadap perusahaan pemasok. Strategi ini di pilih bila pemasok yang sekarang mahal dan tidak dapat di andalkan untuk memenuhi kebutuhan , jumlah pemasok sedikit dan jumlah pesaing banyak, organisasi bersaing di dalam industri yang sedang berkembang, atau pemasok sekarang mempunyai profit margin yang tinngi.
e. Forward Integration
 Adalah strategi untuk mendapatkan atau meningkatkan control terhadap distributor atau pengecer. Strategi ini dipilih bila tidak ada distributor yang baik untuk bersaing di dalam industri yang sedang berkembang  atau distributor dan pengecer sekarang mempunyai profit yang tinggi.
f. Horizontal Integration
 Adalah strategi untuk mendapatkan kepemilikan atau meningkatkan control terhadap pesaing. strategi ini di pilih bila organisasi mendapat monopoli, bersaing di dalam industry yang sedang berkembang, atau pesaing kurang menguasai pengolahan pemasok.

2. Strategi Conservative
a. Market Penetration
 Adalah strategi untuk meningkatkan pangsa pasar untuk produk atau jasa dalam pasar yang ada sekarang melalui usaha-usaha pemasaran untuk intensif. Strategi ini dipilih bila : pasar sekarang belum jenuh, penggunaan dari pelanggan meningkat, pangsa pasar dari pesaing menurun sedang penjualan total dari industri meningkat atau kolerasi antar keuntungan dan biaya pemasar tinggi.
b. Market Development
 Adalah strategi mengenal produk atau jasa yang ada ke daerah yang baru. Strategi ini dipilih bila terdapat jaringan distribusi baru yang murah, baik, dan dapat diandalkan, organisasi sangat sukses, pasar belum jenuh, atau organisasi mempunyai kapasitas produk yang berlebih.
c. Product Development
 Adalah strategi yang berusaha meningkatkan penjualan dengan jalan memperbaiki atau memodifikasi produk atau jasa yang ada. Strategi ini dipilih bila organisasi mempunyai produk sukses yang sudah dalam tahap matang dengan menarik pelanggan yang puas terhadap produk baru, persaingan industri dengan ciri teknologi yang cepat berkembang, pesaing utama menawarkan produk dengan kualitas yang lebih baik dengan harga bersaing, organisasi bersaing dalam industri dengan pertumbuhan tinggi atau mempunyai kemampuan riset dan pengembangan yang kuat.
d. Concentric Diversification
 Adalah menambah produk atau jasa baru tetapi berkaitan secara langsung.

3. Strategi Defensive
1. Retrechment
Terjadi ketika suatu organisasi mengubah kelompok lewat penghemat biaya dan asset untuk mendongkrak penjualan dan laba yang menurun. Kadang-kadang disebut strategi berbalik atau reorganisasional, penciutan didisain untuk memperkuat kompetensi khas mendasar dari organisasi.
2. Divesture
Terjadi ketika suatu organisasi mengubah kelompok lewat penghemat biaya dan asset untuk mendongkrak penjualan dan laba yang menurun. Kadang-kadang disebut strategi berbalik atau reorganisasional, penciutan didisain untuk memperkuat kompetensi khas mendasar dari organisasi (penjelasan sama dengan retrenchment).
3. Liquidation
Liquidation merupakan pengakuan akan kekalahan dan konsekuensinya dapat menjadi strategi yang sulit secara emosional. namun barangkali lebih baik untuk menghentikan operasi daripada terus menderita kerugian dalam jumlah yang besar.
4. Concentric Diversification
Adalah menambah produk atau jasa baru tetapi berkaitan secara langsung.

4. Strategi Competitive
a. Backward Integration
Adalah strategi untuk mendapatkan atau meningkatkan control terhadap perusahaan pemasok. Strategi ini di pilih bila pemasok yang sekarang mahal dan tidak dapat di andalkan untuk memenuhi kebutuhan , jumlah pemasok sedikit dan jumlah pesaing banyak, organisasi bersaing di dalam industri yang sedang berkembang, atau pemasok sekarang mempunyai profit margin yang tinggi.
b. Forward Integration
Adalah strategi untuk mendapatkan atau meningkatkan control terhadap distributor atau pengecer. Strategi ini dipilih bila tidak ada distributor yang baik untuk bersaing di dalam industri yang sedang berkembang  atau distributor dan pengecer sekarang mempunyai profit yang tinggi.
c. Horizontal Integration
Adalah strategi untuk mendapatkan kepemilikan atau meningkatkan control terhadap pesaing. strategi ini di pilih bila organisasi mendapat monopoli, bersaing di dalam industry yang sedang berkembang, atau pesaing kurang menguasai pengolahan pemasok.
d. Market Penetration
Adalah strategi untuk meningkatkan pangsa pasar untuk produk atau jasa dalam pasar yang ada sekarang melalui usaha-usaha pemasaran untuk intensif. Strategi ini dipilih bila : pasar sekarang belum jenuh, penggunaan dari pelanggan meningkat, pangsa pasar dari pesaing menurun sedang penjualan total dari industri meningkat atau kolerasi antar keuntungan dan biaya pemasar tinggi.
e. Market Development
 Adalah strategi mengenal produk atau jasa yang ada ke daerah yang baru. Strategi ini dipilih bila terdapat jaringan distribusi baru yang murah, baik, dan dapat diandalkan, organisasi sangat sukses, pasar belum jenuh, atau organisasi mempunyai kapasitas produk yang berlebih.
g. Conglomerate Diversification
 Adalah menambah produk atau jasa baru. Beberapa perusahaan melakukan diversifikasi konglomerat sebagian didasarkan pada harapan laba dari memrcah-mecah perusahaan yang dibeli dan menjual divisi sebagai.
h. Concentric Diversification
 Adalah menambah produk atau jasa baru tetapi berkaitan secara langsung.
i. Horizontal Diversification
 Adalah  menambah produk atau jasa tetapi tidak berkaitan untuk pelanggan yang sudah ada. Resiko strategi ini tidak sebesar diversifikasi konglomerat karena perusahaan pasti sudah mengenal pelanggan yang sudah ada.

5. GE Model Matrix (Pemetaan Jasa Pelayanan)

a Faktor Daya Tarik Pasar dan Daya Saing Perusahaan
1) Faktor-faktor yang mempengaruhi daya tarik pasar
a) Ekonomi pasar
b) Tingkat kompetensi
c) Penggunaan tekhnologi canggih
d) Pengaruh Global : MRA, UU, PP, Sosial, Global Warning
e) Sarana dan prasarana RS

2) Faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing pasar
a) Pelayanan komprehensif (cepat, tepat, mudah,terpadu)
b) Kualitas produk
c) Citra dan profesionalisme SDM
d) Efisiensi biaya pelayanan
e) Efektifitas promosi kesehatan

b Pembobotan
Pada factor daya tarik pasar berdasarkan pada penilaian pemilik modal/pimpinan  terhadap pelayanan Rumah Sakit/Instalasi/Unit Kerja, sedangkan daya saing perusahaan (pelayanan keperawatan) berdasarkan penilaian secara objektif terhadap perusahaan dibandingkan perusahaan sejenis.
c. Skala (Rating)
Penilaian bobot pada masing-masing faktor berdasarkan pada gambar kinerja perusahaan dengan menggunakan skala sebagai berikut :
• Sangat kuat         = 5
• Kuat            = 4
• Cukup            = 3
• Lemah            = 2
• Sangat lemah        = 1
Skala Hasil :
• 1 - 2,3             = Rendah          
• 2,3 - 3,6            = Sedang
• 3,6 – 5,0            = Tinggi

Daya Tarik Pasar

Daya Saing Pasar


 pemetaan produk atau jasa pelayanan
Analisis Matrik GE-9 Call Model :
a Anatomi Sel
 Area pemetaan terbagi atas 3 (tiga) kolom utama, yaitu posisi matrik kolom terdiri dari :
1. Posisi matrik kolom kiri terdiri dari :
a) Leader
Pada posisi perusahaan mengalami tingkat pertumbuhan yang cepat dan merupakan pemain utama pada bidangnya, karena memiliki daya saing dan daya tarik pasar yang tinggi. Oleh karena itu, perusahaan segera melakukan investasi
b) Try Harder
Pada sel ini daya saing perusahaan mengalami tingkat rata-rata, tetapi masih mempunyai daya tarik pasar yang tinggi, oleh karena itu perusahaan tidak mempunyai tingkat persaingan yang tinggi. Strategi yang perlu dilakukan adalah berusaha meningkatkan daya saing untuk memenangkan persaingan.
c) Double or Quit
Pada sel ini perusahaan tidak disarankan untuk melakukan diversifikasi, kecuali proyek saham yang akan dimasuki benar-benar menguntungkan.
2. Posisi matrik kolom tengah terdiri dari :
1) Growth
Pada sel ini perusahaan cenderung menjadi pemain besar di bidangnya, oleh karena itu diperkirakan mengalami tingkat pertumbuhan yang wajar. Dengan kondisi ini, perusahaan akan dapat memperoleh dana yang cukup untuk mendanai kegiatan ekspansinya.
2) Custodial
Pada perusahaan mengalami tingkat persaingan yang lebih kuat dan melemahnya daya tarik pasar. Untuk itu diperlukan upaya untuk memaksimalkan ketergantungan terhadap sumber penghasilan yang ada.
3) Phased Withdrawl
Pada sel ini perusahaan mempunyai daya saing lemah dan daya tarik pasar rata-rata. Maka strategi yang dilakukan adalah mengupayakan alternatif yang lebih menguntungkan.
d. Posisi matrik kolom kanan terdiri dari :
1) Cash Generation
Pada sel ini perusahaan mempunyai daya saing yang kuat dibandingkan dengan lemahnya daya tarik pasar, sehingga masih dapat menghasilkan keuntungan yang baik. Oleh karena itu perusahaan memerlukan sedikit usaha untuk ekspansi pada sector yang tingkat pertumbuhan tinggi.
2) Generation
Pada sel ini perusahaan mempunyai daya saing lemah dan daya tarik pasar rata-rata. Maka strategi yang dilakukan adalah mengupayakan alaternatif yang lebih menguntungkan.
3) Disinvest
Pada sel ini perusahaan sedang mengalami kerugian. Strategi yang dilakukan adalah menjual unit-unit usaha yang rugi dan menciutkan kegiatan usaha.

D. PENGAMBILAN KEPUTUSAN
1. ALTERNATIF STRATEGI
contoh tabel alternatif strategi
2. Quantitative Strategic Planning Methode Matrix (QSPM)
Selain membuat peringkat strategis untuk memperoleh daftar prioritas, hanya ada 1 tehnik analisis dalam literatur yang dirancang untuk menetapkan daya tarik relatif dari tindakan alternatif yang layak. Tehnik ini yaitu Quantitative Strategic Planning Methode Matrix (QSPM). Tehnik ini secara sasaran menunjukkan strategi alternatif mana yang terbaik. QSPM adalah alat yang memungkinkan ahli strategi untuk mengevaluasi strategi alternatif secara obyektif, berdasarkan pada faktor-faktor kritis untuk sukses eksternal dan internal yang dikenali sebelumnya. Seperti alat analisi perumusan strategi yang lain, QSPM memerlukan penilaian intuitif yang baik.

Secara konsep, QSPM menentukan daya tarik relatif dari berbagai strategi berdasarkan pada sejauh mana faktor-faktor sukses kritis eksternal dan internal dimanfaatkan dan diperbaiki. Daya tarik relatif dari setiap strategi dalam satu set alternatif dihitung dengan menettapkan dampak kumulatif dari setiap faktor sukses kritis eksternal dan internal. Berapa pun jumlah set strategi alternatif  dapat dimasukan ke dalam QSPM dan dalam berapa pun jumlah strategi dapat menyusun suatu set, tetapi hanya strategi dalam set tertentu dievaluasi relatif terhadap yang lain. Nilai daya tarik bukan hanya tebakan, nilai itu harus beralasan, dapat dipertahankan dan masuk akal. Hindari memberikan nilai daya tarik yang sama pada setiap strategi.

Langkah pengembangan QSPM
a. Buat daftar SWOT (diambil dari matrik IFE dan EFE)
b. Cantumkan bobot
c. Pelajari hasil analisa SWOT dan tulis alternatif strategi
d. Tentukan nilai AS (Attractiveness Score)
Nilai 1 = Tidak atraktif atau tidak ada keterkaitan
Nilai 2 = Mungkin atraktif atau mungkin keterkaitan
Nilai 3 = Atratktif atau ada keterkaitan
Nilai 4 = Paling atraktif atau paling terkait

e. Hitung TAS (Total Attractiveness Score) yaitu perkalian antara bobot dan AS
f. Hitung jumlah total TAS dan bandingkan strategi mana yang TAS totalnya paling banyak
contoh tabel menghitung jumlah total attractiveness score
Keterangan :
AS (Alternatif Strategi)  = 1 – 4
TS  (Total Skor ) =  jumlah total 1

Dari beberapa nilai TA yang didapat, nilai TAS dari alternatif strategi yang tertinggilah yang menjadi pilihan utama. Nilai TAS terkecil menunjukkan bahwa alternatif strategi ini menjadi pilihan terakhir.

Sifat positif dari QSPM
a. Set strategi dapat diperiksa secara berurutan dan bersamaan
b. Alat ini mengharuskan ahli strategi untuk memadukan faktor-faktor eksternal dan internal yang terkait dalam proses keputusan

Keterbatasan QSPM
a. Proses ini selalu memerlukan penilaian intuitif dan asumsi yang diperhitungkan
b. Hanya dapat sebaik informasi yang diperlukan dan analisis penjodohan yang menjadi landasannya.

E. Penyusunan Program Kerja/Kegiatan

PLANNING OF ACTION
5W 1H

contoh pembuatan planning of action
Refference :
Rangkuti, Fredy, Analsisi SWOT : Tehnik Membedah Kasus Bisnis, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1999.
Rangkuti, Fredy, Business Plan, Tehik Membuat Perencanaan Bisnis dan Analisis Kasus, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1999.
R. David, Freud, Strategic Management,  International Edition.
Trisnantoro, Laksono. Prinsip Prinsip Manajemen Strategic, makalah disampaikan pada pemantapan perencanaan tahunan RS Khusus, September 1999

Monday, October 23, 2017

KONSEP MANAJEMEN KEPERAWATAN

KONSEP MANAJEMEN KEPERAWATAN

Konsep Manajemen Keperawatan
 
Defenisi
Manajemen keperawatan merupakan suatu bentuk koordinasi dan integrasi sumber-sumber keperawatan dengan menerapkan proses manajemen untuk mencapai tujuan dan obyektifitas asuhan keperawatan dan pelayanan keperawatan (Huber, 2000).
Kelly dan Heidental (2004) menyatakan bahwa manajemen keperawatan dapat didefenisikan sebagai suatu proses dari perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengawasan untuk mencapai tujuan. Proses manajemen dibagi menjadi lima tahap yaitu perencanaan, pengorganisasian, kepersonaliaan, pengarahan dan pengendalian (Marquis dan Huston, 2010).
Swanburg (2000) menyatakan bahwa manajemen keperawatan adalah kelompok dari perawat manajer yang mengatur organisasi dan usaha keperawatan yang pada akhirnya manajemen keperawatan menjadi proses dimana perawat manajer menjalankan profesi mereka. Manajemen keperawatan memahami dan memfasilitasi pekerjaan perawat pelaksana serta mengelola kegiatan keperawatan. Suyanto (2009) menyatakan bahwa lingkup manajemen keperawatan adalah manajemen pelayanan kesehatan dan manajemen asuhan keperawatan. Manajemen pelayanan keperawatan adalah pelayanan di rumah sakit yang dikelola oleh bidang perawatan melalui tiga tingkatan manajerial yaitu manajemen puncak (kepala bidang keperawatan), manajemen menegah (kepala unit pelayanan atau supervisor), dan manajemen bawah (kepala ruang perawatan). Keberhasilan pelayanan keperawatan sangat dipengaruhi oleh manajer keperawatan melaksanakan peran dan fungsinya. Manajemen keperawatan adalah proses kerja setiap perawat untuk memberikan pengobatan dan kenyamanan terhadap pasien. Tugas manager keperawatan adalah merencanakan, mengatur, mengarahkan dan mengawasi keuangan yang ada, peralatan dan sumber daya manusia untuk memberikan pengobatan yang efektif dan ekonomis kepada pasien (Gillies, 2000).

Prinsip-Prinsip Manajemen Keperawatan


Menurut Kuntoro, A. (2010) Manajemen keperawatan dapat dilaksanakan secara benar. Oleh karena itu, perlu diperhatikan prinsip dasar berikut.
1. Manajemen keperawatan berlandaskan perencanaan
Perencanaan meruapan hal yang utama, dan serangkaian fungsi dan aktifitas manajemen. Tahap perencanaan dan proses manajemen tidak hanya terdiri dan penentuan kebutuhan keperawatan pada berbagai kondisi klien, tetapi juga terdiri atas pembuatan tujuan, pengalokasian anggaran, identifikasi kebutuhan pegawai, dan penetapan struktur organisasi yang di inginkan. Perencanaan merupakan pemikiran/konsep-konsep tindakan yang umumnya tertulis dan merakan fungsi yang penting dalam mengurangi resiko dalam pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan efek-efek perubahan. Selama proses perencanaan yang dapat dilakukan oleh pimpinan keperawatan adalah menganalisis dan mengkaji system, mengatur strategi organisasi dan menentukan tujuan jangka panjang dan pende, mengkaji sumber daya organisasi, mengidentifikasi kemampuan yang ada, dan aktifitas spesifik dan prioritasnya. Perencanaan dalam manajemen mendorong seseorang pemimpin keperawatan untuk menganalisis aktifitas dan struktur yang dibutuhkan dalam organisasinya.
2. Manajemen keparawatan dilaksanakan melalui penggunaa waktu yang efektif
Manajer keperawatan yang mengahargai waktu akan mampu menyusun perencanaan yang terprogram dengan baik dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Keberhasilan seorang pemimpin keperawatan bergantung pada penggunaan waktunya yang efektif. Dalam keperawatan, manajemen sangat dipengaruhi oleh kemampuan pimpinan keperawatan. Dalam konteks ini waktu yang tersedia secara efektif. Hal demikian dibutuhkan untuk dapat mencapai produktifitas yang tinggi dalam tatanan organisasinya
3. Manajemen keperawatan melibatkan pengambilan keprutusan
Berbagai situasi dan permasalahan yang terjadi dalam pengolahan kegiatan keperawatan memerlukan pengambilan keputusan yang tepat di berbagai tingkatan manajerial. Semua tingkat manajer dalam keperawatan dihadapkan pada persoalan yang berbeda sehingga dibutuhkan metode atau cara pengambilan keputusan yang berbeda pula. Jika salah dalam pengambilan keputusan akan berpengaruh terhadap proses atau jalannya aktifitas yang akan dilakukan. Proses penngambilan keputusanakan sanagt dipengaruhi oleh kemampuan komuniksi dan para manajer
4. Manjemen keperawatan harus terorganisasi
Pengorganisasian dilakukan sesuai dengan kebutuhan organisasi dalam rangka mencapai tujuan. Terdapat empa blok struktyr organisasi, yaitu unit, departemen, top/tingkat eksklusif dan tingkat operasional. Prinsippengorganisasian mencangkup hal-hal pembagian tugas (the devision of work), koorganisasi kesatuan komando, hubungan staf dan lini, tanggung jawab dan kewenangan yang sesuai serta adanya rentang pengawasan. Dalam keperawatan, pengoganisasian dapat dilaksanakan dapat dilaksanakan dengan cara fungsional/ penugasan, alokasi pasien, perawatan grup/tim keperawatan , dan pelayanan keperawatan utama
5. Manajemen keperawatan menggunakan komunikasi yang efektif
Komunikasi merupakan bagian penting dan aktifitas manajemen. Komunikasi yang dilakukan secara efektif mampu mengurangi kesalahpahaman, dan akan memberikan persamaan pandangan arah dan pengertiandiantara pegawai dalam suatu tatanan organisasi
6. Pengendalian merupakan elemen menajemen keperawatan
Pengendalian dalam manajemen dilakukan untuk mengarahkan kegiatan manajemen sesuai denga yang direncanakan. Selain itu, pengendalian dilaksanakan agar kegiatan yang dilakukan tidak banyak terjadi kesalahan yang berakibat negative terhadap klien dan pihak yang terkait dengan manajemen. Pengandalian meliputi penilaian tentang pelaksanaan rencana yang telah dibauat, pemberian instruksi, menetapkan prinsip-prisip melalui penetapan standar, dan membandingkan penampilan dengan standar serta memperbaiki kekurangan.

Fungsi-Fungsi Manajemen Keperawatan

Manajemen memerlukan peran orang yang terlibat di dalamnya untuk menyikapi posisi masing-masing sehingga diperlukan fungsi-fungsi yang jelas mengenai manajemen (Suarli dan Bahtiar, 2009).
Fungsi manajemen pertama sekali diidentifikasi oleh Henri Fayol (1925) yaitu perencaanaan, organisasi, perintah, koordinasi, dan pengendalian. Luther Gulick (1937) memperluas fungsi manajemen fayol menjadi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), personalia (staffing), pengarahan (directing), pengkoordinasian (coordinating), pelaporan (reporting), dan pembiayaan (budgeting) yang disingkat menjadi POSDCORB. Akhirnya, fungsi manajemen ini merujuk pada fungsi sebagai proses manajemen yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, ketenagaan, pengarahan, pengawasan (Marquis dan Huston, 2010).
Fungsi manajemen menurut G.R. Terry adalah planning, organizing, actuating, dan controlling, sedangkan menurut S.P. Siagian fungsi manajemen terdiri dari planning, organizing, motivating, dan controlling (Suarli dan Bahtiar, 2009).

Proses Manajemen

1. Pengkajian-pengumpulan data
Pada saat ini, seorang manajer dituntut tidak hanya mengupulkan informasi tentang keadaan pasien, melainkan juga mengenai institusi ( rumah sakit/ puskesmas);tenaga keperawatan, administasi dan bagian keuangan yang akan memegaruhi fungsi oraganisasi keperawatan secara keseluruhan (nursalam.2011 ) Manajer perawat yang efektif harus mampu memanfaatkan proses manajemen dan mencapai suatu tujuan melalui usaha orang lain. Bial ia memimpin staf, maka menejer harus bertindak secara terencana dan efektif, mampu menjalankan pekaryaan bersama dengan perawat dalam beberapa level hirarki serta bekerja berdasarkan informasi penuh dan akurat tentang apa yang perlu dan harus diselesaikan, dengan cara dan alasan apa, untuk mencapai tujuan apa, dan menggunakan sumber daya apa yang tersedia untuk melaksanaan rencana itu. Selanjutnya, manejer yang efektif harus mempertahankan tingkat efesiensi yang tinggi pada salah satu bagian dengan menggunakan ukuran pengawasan untuk mengidentifikasi masalah dengan segera, dan setelah mereka terbentuk kemudian dievaluasi apakah rencana tersebut perlu diubah atau prestasi karyawan yang dikoreksi (nursalam.2011 ).
Proses adalah suatu rangkaian tindakan yang mengarah pada suatu tujuan. Di dalam proses keperawatan, bagian akhir mungkin berupa sebuah pembebasan dari gejala, eliminasi riisiko, pencegahan komplikasi, argumentasi pengetahuan atau keterampilan kesehatan, dan kemudahan dari kebebasan maksimal. Di dalam proses manejemen keperawatan, bagian akhir adalah perawatan yang efektif dan ekonomis bagi semua kelompok pasien. (nursalam.2011 ) Data-data yang perlu dikumpulkan oleh perawat pada tingkat pelayanan di ruangan atau bagian sebagaimana pendekatan system yang disampikan oleh Gillies (1989) dalam buku nursalam, 2011.

2. Perencanaan
Perencanaan dimaksudkan untuk menyusun suatu perencanaan yang strategis dalam mencapai suatu tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Perencanaan disini dimaksudkan untuk menentukan kebutuhan dalam asuhan keperawatan kepada semua pasien, menegakkan tujuan, mengalokasikan anggaran belanja, menetapkan ukuran dan tipe tenaga keperawatan yang dibutuhkan, membuat pola struktur oragnisasi yang dapat mengoptimalkan efektivitas staf, serta menegakkan kebijaksanaan, dan prosedur operasional untuk mencapai dan misi institusi yang telah ditetapkan.

3. Pelaksanaan

Karena manejemen keperawatan memerlukan kerja melalui orang lain, maka tahap implementasi dalam proses manajemen terdiri atas bagaimana manajer memimpin orang lain untuk menjalankan tindakan yang telah direncanakan. Fungsi kepemimpinan dapat dibagi lagi dalamkomponen fungsi yang terdiri atas kepemimpinan, komunikasi, dan motivasi

4. Evaluasi

Tahap akhir proses manajerial adalah mengevaluasi seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan. Tujuan evaluasi disini adalah untuk menilai seberapa jauh staf mampu melaksanakan perannya sesuai dengan tujuan organisasi yang telah ditetapkan serta mengidentifikasi faktorfaktor yang menghambat dan mendukung dalam pelaksanaan. (nursalam.2011 )
Menurut Bahtiar,yanyan (2012) Untuk melaksanakan proses manajemen di perlukan :
a. Keterampilan tekhnik. Keterampilan tekhnik merupakan kemampuan untuk menggunakan pengetahuan, metode, tekhnik, dan peralatan yang diperlukan dalam menjalankan suatu tugas tertentu. Keterampilan tekhnik bisa di peroleh dari pengalaman, pendidikan dan pelatihan
b. Keterampilan hubungan antar manusia Keterampilan hubungan antar manusia merupakan kemampuan kerja sama dengan orang lain termasuk dalam hal ini memahami masalah motivasi dan penerapan kepemimpinan.
c. Keterampilan konseptual Keterampilan konseptual merupakan kemampuan untuk memahami secara kompleks tentang organisasi yang ada. Selain itu juga berarti kemampuan untuk berfikir secara konseptual mengenai tujuan organisasi sebagai landasan untuk bertindak, bukan hanya memahami tujuan darik satu unit saja.

Dari ketiga keterampilan diatas, yang sangat penting adalah keterampilan hubungan antar manusia. Keterampilan ini paling sering digunakan dalm proses manajemen, dimana antara atasan dan bawahan saling berkomunikasi dan saling berhubungan bahkan, ada ahli yang berpendapat bahwa kemapuan hubungan antar manusia sangatlah vital, dan banyak digunakan dalam proses manajemen